Disini kamu tidak akan menemukan semua hal tentang modernisasi, purifikasi, materialisasi, maupun kaki bau terasi. Tapi kamu akan sangat tercengang setelah tau bahwa .... TERNYATA MASIH ADA YA CEWEK SE NDESO ITU...
woooy.. cewek ndeso ngeblog lagi.. well, walaupun banyaaaaaak banget waktu luang akhir-akhir ini, tapi entah kenapa rasanya ngga mood mau ngeblog. posting tulisan ini aja cewek ndeso harus mengeluarkan seluruh semangat jiwa raga untuk menghilangkan rasa malas. eeeerrrggghh... hilanglah malas!! hush hush hush.. uwaaaoooo... postingan ini ditulis ketika kehamilan cewek ndeso masuk bulan ke 9. oke, silahkan anda kaget. cepet amat buuu?? hey! kalian yang lagi nggak hamil sih emang ngerasa cepet, tapi cewe ndeso nih yang menikmati hari-hari bertambah besarnya perut yang ngerasa lamaaaaaa banget. 9 bulan kok ya lama amat?
'nikmatnya' usia kandungan 9 bulan itu dimulai dari: 1. frekuensi pee (baca: pipis) nya cewe ndeso udah semakin uncontrolled dan unpredictable. tak disangka tak diduga kandung kemih tiba-tiba aja selalu brasa penuh. bentar-bentar pengen pipis, minum dikit pengen pipis, batuk-batuk dikit cruut pipisnya kluar. hemm.. sepertinya memang butuh pampers.. hik hik..
2. tidur ngga pernah nyenyak. well, selain dari keinginan mulia untuk bolak-bolak pipis malam-malam, posisi tidur yang ngga bisa telentang itulah yang bikin tidur jadi ngga nyenyak. tidur harus posisi miring dengan kaki mengapit bantal guling. tapi capek juga kalau harus miring terus-terusan, tangan kaki jadi kesemutan sebelah. Jadi cewe ndeso terkadang tidur telentang tapi hasilnya.. nafas ngap-ngapan.. hemm..
3. susah pup (baca: buang air besar). sekarang pup cewe ndeso jadi ngga teratur tiap pagi dan tiap hari. padahal perut udah mules, tapi begitu jongkok cewe ndeso cuma ngeden-ngeden aja sambil merem melek. baby yellow-nya ngga ada yang keluar secuil pun. ditambah lagi dengan perut sebesar ini, cewe ndeso susah buat jongkok lama. eeerrgggh...
4. sakit pinggang. sering lihat ibu hamil jalan sambil ngelus-ngelus pinggang belakang kan? yuppi, itulah yang cewe ndeso rasain. akibat baby yang semakin besar dalam rahim, jadi mendesak tulang pinggang ke depan dan ke belakang. itu yang bikin otot di sekitar pinggang juga meregang, so pinggang jadi sering pegel. terutama kalau cewe ndeso melakukan aktivitas yang cukup berat. masak bentar aja, pinggangku brasa mau copot. nikmat nikmaaaat..
yap,itulah beberapa perubahan cewe ndeso di kehamilan 9 bulan ini. sebenarnya masih banyak lagi perubahannya, termasuk frekuensi kontraksi palsu yang semakin sering. menurut artikel yang aku search di paman google, kalau mendekati kelahiran emang gitu. ngga terlalu sakit sih, tapi lumayan bikin cewe ndeso merasa kurang nyaman. ngga terasa ternyata HPL nya tinggal beberapa minggu lagi. doakan saya kawan.. caiyooo...
Hari ke.. berapa.. entah, aku di rumah sendiri. Sepi.. Semua anggota keluarga sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Ke kantor, ke sekolah. Dan disini selalu saja aku, dengan rutinitasku, membereskan rumah, menyapu lantai, mencuci piring dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Jujur, aku bosan. Setelah gegap gempita wisuda dan sumpah apoteker yang aku lalui 2 bulan yang lalu, setelah dua gelar berderet di belakang namaku, nyatanya aku harus melanjutkan kehidupan dengan menjadi ibu rumah tangga. Memang ini hanya untuk sementara, selama janin ini masih di rahimku sampai pada usianya 9 bulan dalam kandungan. Terkadang aku iri dengan teman-teman seperjuanganku yang kini dengan bangganya memamerkan ‘first salary’ nya. Mempersembahkan dengan penuh kebanggaan kepada orang tuanya. Kucoba kubandingkan denganku yang masih menadah tangan kepada suamiku. Untunglah saat ini aku masih tinggal bersama orang tuaku, yang pastinya kebutuhan makanku dan suamiku sudah tak perlu lagi kupikirkan. Setidaknya sampai aku dan suamiku menempati rumah baru kami yang saat ini sudah 60% tahap pembangunannya. Setelah itu, bagaimana kehidupanku selanjutnya? Jujur, ingin sekali gelar yang kusandang ini dapat membantu perekonomian keluarga kecilku. Melengkapi impianku sebelum ku memutuskan untuk menikah muda dulu, aku tak mau jadi ibu rumah tangga yang hanya menunggu uang belanja bulanan dari suami. Tapi sekali lagi, kupercaya, sangat percaya bahwa Allah selalu memberikan rizki dari pintu manapun jika kita berusaha mendapatkannya. Aku hanya seseorang yang mempunyai rencana, Allah lah yang menentukan semuanya. Dan aku tersenyum bangga ketika memikirkan kesedihanku dengan sudut pandang yang berbeda. Bukankah aku dua langkah lebih maju dari teman-temanku yang belum menikah? Sudah kugenapkan separuh dien-ku dengan menjadi istri, dan sebentar lagi aku akan diberi amanah untuk menjadi seorang ibu. Bukankah Allah sangat sayang padaku? Sekali lagi aku sangat percaya bahwa toh aku nantinya juga bisa bekerja, tapi tetap tidak melupakan kewajibanku sebagai seorang istri dan seorang ibu.. Insya Allah...^^
Saat ini.. cewe ndeso sedang menikmati detik-detik menjelang perubahan status menjadi seorang IBU. Suka nonton video-video perkembangan janin di youtube. Dan berdecak kagum.. Subhanallah.. Maha Besar Allah yang telah menciptakan makhluk sesempurna ini.
Well, ada makhluk hidup yang akan menjadi buah hatiku kelak di rahimku sekarang. Seneng banget, menikmati perkembangannya hari demi hari.. minggu demi minggu.. bulan demi bulan. Dari awal yang baru terasa detak jantungnya, sampai sekarang, tendangan mautnya yang slalu bikin aku langsung pingin pipis.
Saat memposting tulisan ini, kehamilan cewe ndeso udah masuk bulan kelima. Dan cewe ndeso masih nggak doyan makan dengan sukses..
Mama, Papa, Ibu mertua, cowo katro, tante, sepupu, mbah putri, sahabat, tetangga, semuanya bilang.. “makannya yang banyak ndo, kan sekarang lagi butuh asupan gizi buat dua orang”.
Kalau nggak mual sih cewe ndeso akan melahap habis semua daun mangga di depan rumah, eh maksudnya melahap habis semua makanan yang ada di kulkas.
Tapi ya itu..sampai bulan kelima ini cewe ndeso masih ngga doyan makan. Makan sayur brasa makan air kobokan.. oh la la..
Well,tapi cewe ndeso tetap berusaha memberikan asupan gizi yang maksimal buat si buah hati. Suplemen dari dokter, susu ibu hamil, buah, madu, semuanya kucoba kulahap.
Cewe ndeso juga udah mulai nyicil beli perlengkapan bayi yang ternyata naudzubillah banyaknya. Tapi sekali lagi semuanya sangat kunikmati..
Sayang, lekaslah lahir ke dunia ini. Dengan sehat, lincah, cerdas, soleh, dan patuh kepada kedua orangtua.
Harusnya postingan ini kutulis berlama-lama bulan yang lalu. Tapi yah, lebih baik terlambat daripada engga sama sekali.
20 Juli 2010
kawin..kawiiin.. aku udah kawiiiin...
hahahaha... ^.^
yup, sekarang si cewe ndeso kalo tidur udah ga sendirian lagi. Ada si cowo katro yang setia NGOROK tiap malam saat tidur di sampingku.
Sehari sebelum pesta aku ngga tegang sama sekali. Cuma bersikap salah tingkah setiap bertatap mata dengan Mama atau Papa. Rasanya pengen merubah setiap detik menjadi jam, berjam-jam lebih lama untuk bermanja-manja dengan mama papa sebelum kemanjaanku beralih ke suami. Dan itu membuatku terpaksa harus membuang muka setiap berhadapan dengan mama atau papa, membuang muka karena ngga ingin mama papa liat mataku yang berkaca-kaca.
Tapi untungnya kesibukan mempersiapkan pesta dan kedatangan rombongan teman sekelasku dari Jakarta membuatku lupa dengan kemelowan-lebayku.
Anyway, hari yang dinantikan tiba. Tanggal 11 Juli 2010, aku dibangunkan mama pagi-pagi. Sepersekian detik kemudian aku tersadar, its my special day.. my wedding….
O yeaah…
Acara pertama adalah midadoreni. Ini adat Jawa Tengah yang berarti didandani tipis-tipis untuk bertemu keluarga dari pihak pria saat seserahan. Seharusnya ada siraman sehari sebelumnya, tapi aku anak yang ngga suka ribet (baca: ngga suka mandi). So, dengan berdalih siraman itu hanya adat yang merepotkan jadilah proses siraman ditiadakan dari daftar acara.
Setelah acara seserahan selesai, tibalah acara yang sangat sakral yaitu akad nikah. Akad nikah dijadwalkan sore sehabis ashar, jadi ada waktu kosong lumayan lama. Tapi tetep aja aku disuruh dandan dulu. Perias manten yang kebetulan temen mama papa sendiri, slalu berdoa sebelum meriasku. Itu yang membuatku jadi lebih tenang.
Ingin rasanya cepat-cepat mencium tangannya dengan halal.
Proses akad berlangsung terpisah. Aku di dalam rumah, dan cowo katro di halaman rumahku, tempat akad berlangsung. Dari dalam rumah jantungku dag dig dug yippi tralalala…
Aku duduk diantara para pengantar dari keluarga cowo katro. Wajahku slalu menduduk, dalam hatiku.. iiih,kok mereka ngeliatin aku terus? Ya iyalaaaah.. hari ini aku adalah ratu. Sang pusat perhatian dari pesta ini.
Sebelum Ijab Qabul, ada acara sungkeman dengan Mama Papa pertanda dilepaskannya aku menjadi tanggung jawab suami. Acara ini yang kuanggap sangat berat. Aku anak yang sangat melow alias cengeng. Ngeliat wajah mama papa di hari biasa aja mataku langsung berkaca-kaca, gimana kalau di acara pernikahanku kayak gini?
Dalam hati aku terus berusaha menguatkan diri. “Ndo, kamu harus kuat. Ya, harus kuat..”
Tapi.. baru melangkahkan kaki ke arah mama papa yang duduk di seberang ruangan aja air mataku udah langsung mau netes. Secarik kertas berisi ucapan perpisahan yang udah disiapin pranata acaranya kupegang dengan air mata yang sudah ngga bisa aku bendung lagi. Aku terisak.. air mataku menetes. Bener kan.. aku memang cengeng.. :’(
Selesai.. kakiku kesemutan. Aku melangkah lagi masuk ke dalam rumah sambil dipapah tanteku yang berulang kali menghapus air matanya sendiri. Ternyata hampir semua orang yang hadir meneteskan air mata. Ooh..memang mengharukan..
Alhamdulillah ijab qabul berlangsung dengan lancar. Cowo katro menjawab ijab dari papah dengan bahasa Arab yang lancar tanpa ulangan. Dan dari dalam rumah semua bersuara.. “Alhamdulillah”, semuanya mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan doa. Aku terhenyak, secepat itukah?
Dengan hanya sekian detik lafadz ijab qabul diucapkan, dan status haramku seketika berubah menjadi halal. Subhanallah.. Maha besar Allah dengan segala keagungan-Nya.
Akhirnya tibalah saat aku di bawa keluar untuk di .. emm.. apa itu bahasanya.. dipersandingkan ya dipersandingkan dengan cowo katro. Finally, si cewe ndeso dan cowo katro HALAL. Oyeee…
Dengan backsound lagu ayat-ayat cinta nya Rossa, aku menyapukan pandanganku ke seluruh sudut rumahku. Dekorasi ini.. kursi-kursi tamu itu.. makanan-makanan lezat itu... bunga-bunga yang semerbak ini..dan tamu-tamu yang berjubelan mengambil gambarku itu.. kembali membuatku tersadar.. ini pesta pernikahanku sendiri. Ya, pernikahanku, bukan pesta pernikahan anaknya temen mama yang biasa aku datangi sama mama. Pernikahan yang Insya Allah hanya sekali seumur hidupku.
Keesokan harinya masih ada pesta di gedung. Aku berdoa mudah-mudahan aku engga drop di hari ketiga rentetan acara pernikahanku. Bunga melati dan tetek bengek lainnya yang bersandar di kepalaku membuat kepalaku mau pecah rasanya. Kenapa sih nggak pake baju tidur aja biar lebih simpel?
Ternyata badanku yang kecil mungil ini engga mampu menahan beratnya pentol-pentol di kepala, dan baju adat jawa paes ageng yang bener-bener “ageng” ini. (ageng = besar)
Ditambah lagi tamu yang tak kunjung berhenti. Dua ribu tamu undangan engga berhenti dari sejak kami naik ke atas panggung sampai acara hampir selesai. Yeaah..sekalian aja ngadain konser!
Awalnya biasa saja. Aku yang excited.. dan cowo ndeso yang sumringah membuat dunia terasa indah. Salaman, foto bareng, rasanya indah banget.
Tapi setelah 1 jam berlalu, dunia terasa suram. Mataku udah gelap terang.. gelap terang. Kepala berdenyut-denyut. Nafas terasa engap-engapan. Kaki pegel dengan high heels sepatuku yang 10 cm. Dan aku drop.
Tanteku berkali-kali membawakanku minuman, sop anget, teh anget, permen. Tapi tetep aja badan rasanya pengen jatuh. Cowo katro dengan sigap slalu menanyakan kondisiku.
Aku berusaha mempertahankan diri biar ngga pingsan. Jadi untuk beberapa saat aku duduk sambil bersalaman. Dalam hati.. “hey tamu tamu, kok kalian datengnya barengan gini sih? Uhuk uhuk..”
Kalo tamu-tamu yang datang aku kenal sih gapapa, tapi masalahnya hanya 5% yang aku kenal. Sisanya teman-teman mama papa dan mertua. Oh my gosh..
Tapi Alhamdulillah aku engga sampai pingsan. Selesai acara, dan seluruh riasan yang menyiksaku dilepas aku bisa tertawa lepas lagi. Bisa makan dengan lahap lagi. Astagfirullah, jadi semua karena dandanan ini to?
aaarrrgghhh... (banting cabe, marah ala ibu RT baru) kehidupan jadi istri emang beda dengan cewe ndeso yang masih bebas kayak dulu. Sampai-sampai ngeblog aja sekarang menjadi kegiatan yang dikalahkan dengan asiknya bikin sambel.. :p padahal banyaaaaaaak banget story yang pengen cewe ndeso critain di blog. Mulai dari ribetnya merawat tubuh pra nikah, dag dig dug dor-nya acara akad nikah, sampai perasaan bahagianya menjadi seorang istri yang selalu dimanja suami.. (ooowh...cowo katro pangeranku..:p)
anyway..Insya Allah story-story itu bakal aku share di blog ini dalam waktu yang belum bisa ditentukan. Abisnya setiap onlen, cewek ndeso lebih suka mlototin resep masakan daripada nulis blog. ahaaaayyy... So, buat ngurangin rasa penasaran kalian (emang penasaran yah?? :p).. kali ini cewe ndeso upload-in poto-poto pre wed sampai sebagian acara pernikahan.. here we go... PRE WEDDING pictures..(@masjid UGM)
aaahh..cowo katro... knapa kau tinggi sekali kayak jerapah?
hei..apakah dia cewe ndeso? kok cantik ya? tumben..
Perasaan juga jadi melow banget. Lagi ndengerin lagu 'aku beranjak dewasa' nya sherina aja tiba-tiba cewe ndeso jadi nangis bombay tak terkendali.
Dimalam yang sunyi dan sesenyap ini Dapatkah kumohon pada Yang Esa Masihkah tampak manis raut wajahku Masihkah seputih kapas dihatiku bilakah tak kukoyak mata hatiku oh mungkinkah
Begitu besarnya kasih-Mu untukku karunia dari-Mu setiap waktu Tanpa-Mu tak kan indah jalan hidupku Tanpa-Mu tak kan mudah nikmat rizki-Mu karena-Mu s'lalu bersyukur saat ini ku beranjak dewasa (Aku Beranjak Dewasa, Sherina)
Ternyata aku memang kangen mama papa. Hiks.. Inget 1,5 bulan lagi bakti utamaku akan beralih ke laki-laki asing yang kusebut 'SUAMI'... aku semakin nangis sesenggukan. Hatiku selalu bertanya-tanya, kenapa setelah menikah bakti kepada ibu-bapak harus menjadi yang kedua? Kenapa? Tiba-tiba pikiranku flashback ke masa lalu..
Aku masuk kuliah. Ini pertama kalinya kujauh dari mama papa. Merasa asing di kota besar seperti Jakarta ini. Asing dan sendiri. Tapi mama papa selalu memberi nasehat, "hati-hati ya ndo di kota besar sendirian. rajin-rajinlah belajar". Minggu-minggu pertama kulalui dengan sulit. Ketergantunganku pada orangtua selalu membuatku takut untuk melakukan sesuatu. Menangis setiap malam, dan tak tahu harus mulai darimana. Tapi Alhamdulillah, 4 tahun berlalu. Dan aku menjadi wanita 'cukup pemberani' di kota besar ini.
Aku masuk SMA favorit. Di SMA ini aku udah mulai merasakan indahnya berkumpul bersama teman-teman dan merasakan "CINTA SIMPANSE". Mulai mencoba berdandan, membuat penampilan semenarik mungkin dan bergaul dengan banyak teman. Tapi papa sang pemimpin keluarga berusaha melindungiku. Dengan mengantarkanku tiap hari ke sekolah, mengawasi pergaulanku dan melarangku keluar malam. Aku tak pernah protes. Karena aku tau, itu semua demi kebaikanku. Aku mengikuti beberapa ekskul di sekolah (ekskul nggak termasuk larangan papa, jadi ekskul sebagai 'pintu'ku mencari teman baru). Dan aku tumbuh menjadi gadis rumahan yang punya segudang teman.
Aku masuk SMP favorit. Mama, selalu dengan teriakan yang sama menyuruhku, "Ndo, rambutnya disisir dulu!". Oh ya, aku selalu lupa sisiran. Dan dengan sabar mama menyisir rambutku dengan lembut. "Pake bedak dikit dong sayang, biar ngga keliatan kusam banget". Dan aku selalu berdalih, "Udah kok ma". Padahal belum. Dan aku tumbuh menjadi remaja yang cuek dengan penampilan. Pikiranku cuma satu, ke sekolah ya buat belajar, dandan itu buat ibu-ibu mo kondangan.
Aku (yang umurnya kemudaan setahun) digandeng mama daftar SD. Nervous, tegang, takut, seneng, khawatir, bercampur jadi satu. Pertama kali yang aku tanyakan sama mama adalah, "Ma, kalo ndoten ga naek kelas gimana? Ndo ga bisa perkalian...". Mama cuma tersenyum, "Nggak ada yang nggak bisa dikerjakan di dunia ini kalau ndoten berusaha", dan dengan sabar membimbingku belajar berhitung.
Aku yang pertama kali masuk TK digandeng mama papa. Belum tau arti sekolah. Melihat sekeliling banyak mainan, kulepas gandengan mama papa dan aku bermain. Bercanda tawa dengan teman sebaya, sungguh menyenangkan. Waktunya belajar membaca dan menulis. Aku cepat pandai membaca. Kata ibu guruku ke mama, "langsung aja dimasukkan ke SD ya bu".
Aku masih sangat kecil.. (sudah lupa dengan apa yang kulakukan). Kata papa, papa selalu menggendong aku di pundaknya sambil menyanyikan lagu dan membawaku jalan-jalan hanya agar aku mau makan. Kata mama, mama selalu menangis kalau ingat dulu yang tidak bisa membelikanku baju bagus-bagus saat lebaran padahal teman-teman sebayaku selalu memamerkan baju barunya. Kata orang, mama papa lah yang sangat khawatir saat aku jatuh sakit. harus dirawat di RS akibat muntaber atau Demam Berdarah yang pernah aku alami waktu kecil. Kata mama, kekebalan tubuhku memang rendah karena hanya minum ASI beberapa bulan. Mama Papa selalu bergantian menjagaku dan tak pernah berkeluh kesah karena letih menjagaku.
Aku bercermin.. raut wajahku tak semanis dulu. Tidak ada bayanganku dengan rambut dikuncir dua dan dijepit warna-warni atau dengan sandal boneka dan rengekan manja. Tiba-tiba kusadari waktu sangat cepat berlalu. Daur kehidupanku yang baru akan kulalui. Daur kehidupan yang kusadari tak kan mudah tanpa bantuan mama papaku lagi. Aku yang sekarang akan menjadi seorang Istri.. dan Insya Allah akan menjadi seorang ibu. Tugas dan tanggung jawab mama papa sebentar lagi selesai. Sebentar lagi ada suami yang bertanggung jawab terhadapku. Tetapi sampai kapanpun.. aku akan tetap membaktikan diriku kepada orang tuaku. Ma, Pa..Ndoten sayang mama papa.. Semoga Mama Papa selalu sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. I love u Mama.. I love u Papa..
Dalam 4 bulan ini aku sudah tak sendiri lagi. Telah ada “dia” yang telah menemani hari-hari sepiku.
Setelah bertahun-tahun aku menjadi wanita sendiri yang mandiri. Menjadi seorang wanita yang “hampir” melakukan semuanya sendiri. Karena merasa telah bisa melakukan semuanya sendiri itulah dulu aku sering berkata:
“aku tak membutuhkan pria”.
“tak akan sudi ku menitikkan air mata hanya untuk pria”.
“kapan aku punya waktu untuk belajar, kalau tiap saat waktuku kuhabiskan hanya untuk pria?”.
I was a single happy women.
Yah, aku tau itu terdengar sangat arogan. Dan entah kenapa tiba-tiba sekarang aku sadar, semua keegoisanku hanyalah refleks semata yang kubuat untuk menutupi semua kelemahanku. Aku hanyalah wanita biasa yang tetap membutuhkan pria untuk melindungiku, mendengar keluh kesahku, menyayangiku, menemaniku dalam suka dan duka, dan menjadi sandaran hatiku.
Sudah 4 bulan malam mingguku tak lagi kuhabiskan didepan laptop ataupun bermalam di kosan Eni.
Malam minggu sekarangkurasa penuh dengan warna. Kubuka pintu dan telah ada “dia” yang tersenyum lembut menyambutku dari balik pagar kosanku.
“Mau makan dimana malam ini, de?”.
Aku menatap wajahnya dan tersenyum. Indah.
Aku telah menemukan dunia baru yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Tapi ucapan sahabatku kemarin tiba-tiba menghenyakkan jantungku.
“Stefi neh, mentang-mentang udah ada yang punya jadi lupa sama kita. Dulu mah kalo diajakkin hangout kemana gitu pasti selalu semangat banget pengen ikut. Sekarang beda yah”.
Aku teringat dengan sms yang dikirim dari sahabatku yang lain sekitar 1 bulan yang lalu,
“Tepong, anterin aku ke islamic book fair di senayan yuk!”
Dan saat itu aku hanya membalas bahwa aku sudah pergi kesana dengan ”dia” sehari sebelumnya.
Sahabatku yang lain datang kekosanku dan berkata,
“Tep, ntar siang Kak Yanti mau datang. Maen kekosanku ya. Dah lama kita nggak ngobrol-ngobrol sama Kak Yanti lagi kayak dulu”
Saat itu aku hanya tersenyum dan berkata kalau sebenarnya betapa inginnya bertumpul dengan Kak Yanti seperti dulu tapi hari ini aku sudah berjanji akan pergi ke TMII bersama “dia”.
Aku terpana. Benarkah aku telah menjadi sesosok perempuan yang berbeda bagi teman-temanku? Benarkah aku sudah tak mempunyai waktu untuk sahabat-sahabatku?
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku tetaplah seorang sahabat yang selalu siap sedia ketika kau membutuhkan bantuan. Aku tetap senang hati menyediakan bahuku sebagai tempat bersandar ketika engkau menangis saat kebahagiaan tak lagi menghampirimu.
Aku hanya membutuhkan sedikit saja waktu yang biasa kuhabiskan bersama sahabatku, untuk kuluangkan bersamanya.
“Dia” yang banyak orang bilang adalah cowokku, pacarku atau kekasihku. Tapi aku hanya tersenyum dan menjawab.
Insya Allah dia calon suamiku.
Terdengar sangat optimis hah?
Kata Qisti, temanku: “Hahaha, lo yakin dia itu bener-bener jodoh lo? Optimis banget!”.
Dia tertawa. Dan aku punya tiga kata yang telah kurangkai dalam satu kalimat untuknya.
Optimis adalah doa.
Sob, aku tetaplah Stefi yang dulu, sahabatmu. Yang dengan penuh canda dan tawa selalu kau bilang sebagai:
Si Cewek Ndeso.
Tulisan ini cewe ndeso dedikasikan untuk Eni, Ana, Ncuz, Ulfa, Qisti, Dini, Hani, dan semua sahabat-sahabatku yang merasa telah “kuabaikan”.
Well,, maap kalo kalian sudah terlalu lama menunggu up date-an blog ini. Maklum, si cewe ndeso yang byutipul ini lagi bener-bener sibuk (atau sok sibuk?) buanget ngejalanin beberapa proses kehidupan. Dua bulan ngecuekin blog ini bikin aku kangen banget open my mind buat menceritakan pengalaman yang ga sebenernya ga penting untuk ditulis, tapi anehnya justru pengalaman yang ngga penting itulah yang suatu saat nanti bakalan menjadi suatu moment yang sangat penting untuk cewe ndeso atau bahkan untuk kalian. Ehem, berasa sok ditungguin gitu up date-an blognya. Padahal sih yang ngebaca ngga jauh-jauh dari Mama, Dini, Rina, Titin, Mas Fahmi, kucing, kambing, kerbau, bangau... wohooo, maap 5 nama terakhir tidak termasuk dalam daftar manusia. (maap, yang merasa punya nama ”Fahmi” silahkan hitung 5 nama terakhir yang disebutkan tadi) Kakakakakak... Ada beberapa kabar terbaru dari kehidupanku: 1. Udah hampir 1 bulan ini si cewe ndeso punya tukang ojek pribadi. Yuhuuu... ternyata punya tukang ojek pribadi itu mengasyikan yah! Gara-gara tukang ojek inilah cewe ndeso jadi males nge-up date blog. Ok, ayo kita bikin komit, mulai saat ini mari kita panggil si tukang ojek ini: ”si COWO KATRO”. Yeaahh,, cool... Sekarang kalian tau kan siapa yang kumaksud di postingan sebelumnya. Yup, thats him. Anyway, kurasa kita berdua adalah pasangan yang paling ideal sepanjang sejarah percintaan, bahkan mengalahkan kisah abadi sepanjang masa: Romeo and Juliet, because we are ”Cowo Katro and Cewe Ndeso”. Ah, sungguh pas sekali. Luv luv...
2. Ini sudah minggu ketiga cewe ndeso kerja rodi di RS Tangerang Nasib anak farmasi semester akhir ini emang begini: PKL, Laporan PKL, Proposal skripsi, Seminar proposal, Skripsi, dan Sidang. Yeah, perfect!! Kalo dipikir-pikir emang bisa bikin otak dangdutan, tapi aku teringat pesan dari cowo katro. ”Jangan dilihat dari seberapa sulit kamu akan menghadapi semua itu, tapi lihat semua itu sebagai satu tahap lagi menuju toga dan jubah wisuda”. Hemm,, simpel tapi bermakna. Bikin aku nambah sayang sama tikus putihku. Aku juga inget pesan Mama: ”Wanita yang paling bahagia adalah wanita yang bisa menjaga hatinya dikala kecurian hatinya. Hati-hati ya ndo, tetap fokus belajar” I wish, aku tetap menjadi wanita yang paling berbahagia dalam semua hal. So, I keep effort untuk membuat hati yang tercuri ini menjadi suatu motivasi dalam pencapaian kesuksesanku dalam belajar. Actually, banyak hal yang ingin aku critain tentang pengalaman yang keren banget selama aku PKL di RS Tangerang ini. Tapi, kurasa kalian bakal tidur di depan laptop saking banyaknya cerita yang aku tulis. Anyway, inti dari kehidupan baruku di Tangerang adalah: seneng, capek, deg-degan, adrenalin meningkat, dapet pengalaman baru komunikasi sama pasien, mata pegel melototin ko-as ganteng mondar mandir di RS (cewe ndeso’s hope: moga-moga cowo katro ga baca blog ini, luv u honey. hehe..), betis berkonde kebanyakan mondar-mandir keliling tebar pesona di rumah sakit, lemak bertumpuk keseringan ngemil di kosan, daaaaan masih banyak lagi yang lainnya. Weits, baru nyeritain intinya aja kalian udah pada nguap. Hahahah... Udah dulu ah up date-an blog ndeso kali ini. Di tangerang susah banget nyari warnet, sumpah ternyata Tangerang lebih ndeso dari desaku. Peace.. for Tangerang citizen, thas all just kidding. *melet Publish-in postingan ini aja harus nebeng online 3,5 G-nya Lulu. Thanx a lot lu!!! And the last but not least: I LOVE U honey....
Bulan agustus dah dateng. Hemmm,, cepet banget ya waktu berlalu. Ga krasa bentar lagi mau nonton karnaval 17 gustusan lagi, ga krasa juga ternyata dah mau masuk bulan Ramadhan lagi,, ga krasa dah mau tahun ajaran baru lagi,, ga krasa dah mau punya adek angkatan baru lagi,, ga krasa,, ga krasa,, ga krasa… apa-apa neh. Mijitnya tolong kencengan dikit donk!! Hohoho… Huaaaah,,, cepet bangeeet yaaach!!!! Hufff…Akhirnya aku liburan juga, setelah ujian tak berperikemanusiaan yang bikin berat badanku turun 3 kilo. Pas pulang kerumah kemaren dan ngliat badanku yang semakin tipis, mama langsung ngambil inisiatif yang sangat mulia untuk mulai slalu ngejejelin makanan bergizi ke aku.
Mamaaaa stoooop!!! Aku udah tobat ga makan rumput lagi! Oya fren, cewek ndeso seneeeeeng banget! Coz sebelum pulang kerumah, aku sempetin ngikut temen-temen kelas buat liburan ke puncak. Critanya anak farmasi balas dendam!!! Slama 3hari dua malam, kita bener-bener kayak anak kesetanan. Wuaaahh,,, masa bodo! Mo nyanyi-nyanyi kayak orang gila kek,, tereak-tereak,, shoping-shoping,, poto-poto,, loncat-loncat,, makan wortel,, woho maap kok jadi kelinci?? Pokoknya FREE banget deh!!! Beginilah nasib anak farmasi yang jaraaaaaaang banget nemu waktu libur. Heemmm….
Kalian pernah ga dimirip-miripin sama seseorang? Ato artis? Well, aku sih udah sering banget. Katanya ada yang bilang aku mirip samaaaaaaa…. MAMA. Ya iya lah…. Kjadian mirip-miripan ini waktu di puncak kemaren. Critanya pas anak skelas lagi pada nyante di depan tv di villa, di salah satu channel tv nongol Gita Gutawa yang lagi nyanyi bareng tali lasso. Ups maksudku Ari lasso. Maap, kang Ari. Suddenly, Adah, temen tanjung priuk-ku, nyeletuk. “Eh, Gita Gutawa kok mirip banget sama stevi yach?” Aku, yang waktu itu lagi maenan hape mau ga mau, noleh juga denger Adah ngomong kayak gitu. Sekarang gantian Dini yang nimpalin, “Tuh bener kan? Aku pernah bilang kalo Gita Gutawa tuh mirip sama stevi” “Iya mirip” “Bener mirip, tapi apaaaaanya gitu!” Temen-temen yang laen ketawa. Aku? Asli bingung banget! Syok! Apanya yang mirip?? Emm, dinget-inget ini udah orang keenam yang bilang wajahku mirip sama Gita Gutawa, include my mom. Waktu mama yang bilang aku mirip ama Gita, aku ga terlalu respect. Yang namanya ibu sendiri pasti ngelebih-lebihin anaknya. Mo wajah anaknya abstrak pun kalo itu anaknya sendiri, pasti dibilang, “Nak, kamu kok miriiip banget sama Luna Maya. Tuh liat, mirip kan. Kamu kayak mama waktu masih muda dulu. Tuh tuh, liat kan. JEMPOL KAKI kamu mirip.” Tapi pas temen-temenku sendiri yang bilang gitu, mau ga mau aku geer juga. Perasaanku??? Hummm,, bagaikan terbang ke langit ke tujuh,,
Untung ga dibilang mirip ama omaswati!! Coba kalo ada temenku yang mirip-miripin aku ama omas. “Stev, kalo diliat-liat kamu mirip sama omas yah?” “Iya iya, tuh kan bibirnya mirip. Apalagi kalo lagi ktawa! Mirip abiz” Aku ga bakalan kluar kamar 1 MINGGU!!!
Tidak serupa dan tidak sama
Mama!!! Knapa ga ngomong kalo aku punya sodara kembar?
Setelah kejadian itu aku jadi sering ngaca. Mohohoho… Well,, tapi ga tau knapa sampe skarang aku belum nemuin kemiripan aku sama gita. Dan aku jadi mikir. Apa orang-orang yang ngatain aku mirip sama Gita itu lagi sadar ya? Aku rasa mereka lagi keracunan sate jerapah deh??? Git, kok kamu mirip-miripin aku sih! Oya, teman. Kalo kamu pengen ngliat cewek ndeso yang ga pake jilbab,,, lihatlah Gita Gutawa, Wakakakak…..
Happy b’day to me… Happy b’day to me… Why I fell so sad in my b’day this times? Ga tau knapa, ga ada angin ga ada kipas angin, cewek ndeso merasa ga begitu happy di hari ultahnya kali ini.
Dunia berguncang!! What? Sejak kapan cewek ndeso sedih di hari ultahnya? Biasanya kan selalu bertingkah kayak anak monyet yang dapet pisang kalo lagi ultah. Seneng. seneng banget. Tapi kenapa sekarang ga ada perasaan seneng? Aku bertanya tanya. Ada apa gerangan denganku? Sedang sembelit kah? Oh no no, tadi pagi buangnya lancar kok!
Aku posting tulisan ini tepat dua jam sebelum jam 12 malam. Dan aku merasa, like usual. Nothing happen to me. Padahal dua jam lagi akan terjadi peristiwa yang amat bersejarah buatku. Attention please. Dua jam lagi umur cewek ndeso udah kepala dua. Oh oh…TIDAAAAAK!!! Ternyata oh ternyata, cewek ndeso sedih karena udah tua! Huhu..
Cewek ndeso merenung. Kenapa harus bersedih dengan umur dua puluh tahun? Huf… cewek ndeso sedih karena merasa belum melakukan sesuatu yang bermanfaat selama dua puluh tahun hidup di dunia ini. Selama dua puluh tahun ini cewek ndeso banyak menghabiskan waktunya dengan mandiin kerbau di sungai, manjatin pohon jambu tetangga, maen layangan di lapangan, angon bebek di sawah, ckckck…benar-benar sesuatu yang tidak bermanfaat. Cewek ndeso merasa belum jadi anak yang membanggakan ortu, merasa belum jadi kakak panutan yang baik buat adek-adeknya, dan merasa belum jadi sahabat terbaik buat teman-temannya.
Usia dua puluh tahun adalah usia ketika dimulainya proses pendewasaan diri. Hayo hayo, liatlah apa yang sudah aku dapat selama hidup dua puluh tahun ini. Aku harus mempelajari kegagalan-kegagalan di masa dua puluh tahun kemarin dan membuat itu sebagai suatu pembelajaran yang terbaik agar bisa memperoleh kesuksesan-kesuksesan di masa dua puluh tahun ke depan. Keep spirit girl!!